Jakarta, 15 Oktober 2026 – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak lingkungan dalam pembangunan pusat data atau data center di Indonesia. Menurutnya, pengembangan infrastruktur digital harus berjalan seimbang dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan efisiensi penggunaan sumber daya. Kebutuhan pusat data diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan, komputasi awan, dan transformasi digital di berbagai sektor. Namun, pembangunan fasilitas tersebut juga membutuhkan pasokan listrik dan sistem pendinginan dalam kapasitas besar. Karena itu, perencanaan yang matang diperlukan agar pertumbuhan industri digital tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.
AHY menilai pembangunan pusat data perlu memperhatikan berbagai aspek sejak tahap perencanaan hingga operasional. Pemilihan lokasi menjadi salah satu faktor penting karena berkaitan dengan ketersediaan energi, sumber air, jaringan telekomunikasi, dan kondisi lingkungan sekitar. Fasilitas pusat data membutuhkan infrastruktur yang mampu beroperasi secara stabil untuk menjaga keamanan serta ketersediaan layanan digital. Namun, kebutuhan tersebut harus dipenuhi dengan mempertimbangkan daya dukung wilayah dan keberlanjutan sumber daya alam. Pendekatan ini diharapkan dapat mencegah munculnya persoalan lingkungan akibat pembangunan infrastruktur digital yang tidak terencana.
Salah satu tantangan utama dalam pengoperasian pusat data adalah tingginya konsumsi energi listrik. Server dan perangkat pendukung harus bekerja secara terus-menerus untuk memproses, menyimpan, serta mendistribusikan data kepada pengguna. Aktivitas tersebut membutuhkan pasokan listrik yang andal, termasuk untuk menjalankan sistem pendinginan dan pengamanan fasilitas. Apabila kebutuhan energi dipenuhi melalui sumber dengan emisi karbon tinggi, pertumbuhan pusat data dapat meningkatkan jejak karbon sektor digital. Oleh sebab itu, pemanfaatan energi bersih dan peningkatan efisiensi kelistrikan menjadi aspek penting dalam pengembangan industri tersebut.
Selain konsumsi listrik, penggunaan air untuk sistem pendinginan juga perlu mendapat perhatian. Sebagian pusat data menggunakan teknologi pendinginan yang membutuhkan air dalam jumlah tertentu untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil. Kebutuhan tersebut dapat menjadi tantangan apabila fasilitas dibangun di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya air. Pengembang perlu memilih teknologi pendinginan yang sesuai dengan kondisi lingkungan serta mempertimbangkan efisiensi penggunaan air. Penerapan sistem yang tepat diharapkan mampu mengurangi risiko gangguan terhadap kebutuhan air masyarakat dan kegiatan ekonomi di sekitar lokasi pembangunan.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa pembangunan pusat data memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku. Proses perizinan dan penilaian dampak lingkungan menjadi instrumen penting untuk mengidentifikasi potensi risiko sebelum proyek dijalankan. Pengembang harus memperhatikan pengelolaan limbah elektronik, penggunaan energi, kebisingan, serta dampak terhadap kawasan sekitar. Selain itu, pengawasan selama masa operasional diperlukan untuk memastikan komitmen pengelolaan lingkungan benar-benar dilaksanakan. Kepatuhan terhadap standar tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan investasi yang berkelanjutan.
Di sisi lain, pertumbuhan industri pusat data memiliki potensi besar untuk mendukung perekonomian nasional. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi bagi perkembangan layanan digital, perdagangan elektronik, industri keuangan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan. Ketersediaan pusat data yang andal dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dan lembaga pemerintah dalam mengelola informasi secara aman dan efisien. Investasi pada sektor ini juga berpotensi mendorong pengembangan jaringan telekomunikasi dan kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan teknologi. Namun, manfaat ekonomi tersebut perlu diseimbangkan dengan upaya menjaga kualitas lingkungan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Pengembangan pusat data ramah lingkungan dapat dilakukan melalui penggunaan perangkat hemat energi, sistem pendinginan modern, dan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Perusahaan juga dapat menerapkan pengukuran efisiensi energi untuk memantau kinerja fasilitas secara berkala. Perencanaan tata ruang yang tepat diperlukan agar pembangunan pusat data tidak mengganggu kawasan lindung maupun kebutuhan masyarakat setempat. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyedia energi, dan pelaku industri menjadi penting untuk memastikan kesiapan infrastruktur pendukung. Melalui kerja sama tersebut, pengembangan pusat data diharapkan dapat berlangsung secara terarah dan memberikan manfaat jangka panjang.
Penekanan AHY terhadap dampak lingkungan menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan berkelanjutan. Pemerintah berupaya mendorong investasi teknologi sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Pengembang pusat data diharapkan tidak hanya mempertimbangkan kapasitas layanan serta keuntungan bisnis, tetapi juga efisiensi energi dan pengelolaan sumber daya. Penerapan standar lingkungan yang konsisten dapat membantu meningkatkan kualitas investasi dan mengurangi risiko operasional pada masa mendatang. Dengan perencanaan yang bertanggung jawab, Indonesia diharapkan mampu memperkuat ekosistem digital nasional tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.





