Filippo “Pippo” Inzaghi adalah salah satu penyerang paling ikonik dalam sejarah sepak bola Italia. Terkenal dengan insting golnya yang tajam dan kemampuannya berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat, Inzaghi menjelma menjadi legenda AC Milan dan tim nasional Italia. Selepas pensiun, ia melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih yang kini menunjukkan kelasnya di berbagai klub Serie A dan Serie B.
Awal Karier dan Perjalanan Menuju Puncak
Filippo Inzaghi lahir pada 9 Agustus 1973 di Piacenza, Italia. Karier profesionalnya dimulai di klub kampung halamannya, Piacenza, pada tahun 1991. Setelah sempat menjalani masa peminjaman di beberapa klub seperti Leffe dan Verona, Inzaghi mulai menarik perhatian saat kembali memperkuat Piacenza di Serie B dan mencetak 15 gol dalam semusim.
Penampilannya yang konsisten membuatnya direkrut oleh Parma pada tahun 1995. Namun, nama besarnya mulai mencuat saat bermain untuk Atalanta, di mana ia mencetak 24 gol dalam satu musim Serie A dan menjadi top skorer pada musim 1996/1997.
Masa Keemasan Bersama Juventus dan AC Milan
Kesuksesan di Atalanta membuka jalan ke klub raksasa Italia, Juventus, pada tahun 1997. Bersama Juve, Inzaghi tampil dalam 122 pertandingan dan mencetak 57 gol. Ia meraih gelar Serie A (1997/98), Piala Super Italia, dan tampil di final Liga Champions.
Namun, kejayaan sebenarnya datang ketika ia bergabung dengan AC Milan pada tahun 2001. Bersama Rossoneri, Inzaghi mencapai puncak kariernya, memenangi:
-
2 trofi Liga Champions (2002/03, 2006/07)
-
2 trofi Serie A (2003/04, 2010/11)
-
1 Piala Dunia Antarklub (2007)
-
2 Piala Super Eropa
-
1 Coppa Italia dan 2 Piala Super Italia
Salah satu momen paling legendarisnya adalah ketika ia mencetak dua gol di final Liga Champions 2007 melawan Liverpool — sebuah pembalasan setelah kekalahan Milan di final 2005.
Prestasi Internasional Bersama Timnas Italia
Inzaghi memperkuat tim nasional Italia dalam lebih dari 50 pertandingan, mencetak 25 gol. Ia tampil di Piala Dunia 1998, Euro 2000, dan menjadi bagian dari skuad Italia juara Piala Dunia 2006 di Jerman. Meski bukan starter utama, kehadirannya selalu menjadi ancaman berkat ketajaman di kotak penalti.
Gaya Bermain: Raja Offside yang Tak Pernah Habis Akal
Pippo Inzaghi bukan tipe penyerang dengan skill menggiring bola luar biasa atau fisik yang dominan. Namun, keahliannya membaca arah bola, menembus garis pertahanan lawan, dan memanfaatkan peluang terkecil membuatnya dijuluki:
-
“The Fox in the Box”
-
“Raja Offside” (karena sering terperangkap, tapi sekalinya lepas, bisa fatal)
-
Dikatakan oleh Sir Alex Ferguson: “Inzaghi was born offside.”
Karier sebagai Pelatih: Dari AC Milan ke Reggina dan Sampdoria
Setelah pensiun pada tahun 2012, Inzaghi langsung terjun ke dunia kepelatihan. Ia memulai dari tim muda AC Milan, lalu sempat melatih tim senior pada musim 2014/15. Meski belum sukses saat itu, ia tidak menyerah dan terus belajar di klub-klub seperti:
-
Venezia – membawa klub promosi ke Serie B
-
Benevento – promosi ke Serie A musim 2019/20
-
Reggina
-
Sampdoria (2024) – tempat ia kembali mencoba peruntungan di level atas
Sebagai pelatih, ia dikenal lebih pragmatis dan disiplin, berbeda dengan gaya bermainnya dulu yang penuh insting.
Warisan dan Pengaruh
Filippo Inzaghi adalah contoh nyata bahwa kecerdasan dan determinasi bisa menggantikan kekurangan teknis. Ia menginspirasi banyak penyerang muda, termasuk adiknya Simone Inzaghi yang juga sukses sebagai pelatih Inter Milan.
Inzaghi dikenang bukan hanya karena jumlah golnya, tapi karena momen-momen penting yang ia ciptakan, seperti:
-
Gol final Liga Champions
-
Gol penentu kemenangan
-
Selebrasi penuh emosi yang menggambarkan hasrat sepak bola sejati
Penutup
Filippo Inzaghi adalah lambang dari seorang striker oportunis yang memaksimalkan setiap peluang sekecil apapun. Kini, ia terus memberi warna di sepak bola Italia sebagai pelatih dengan gaya tersendiri. Dari seorang predator di kotak penalti menjadi pemikir di pinggir lapangan, Pippo Inzaghi membuktikan bahwa semangat juangnya belum padam.