Jakarta, 11 September 2026 – Indonesia dan China terus memperluas kerja sama di sektor energi baru sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi sekaligus mendukung proses transisi menuju sistem energi yang lebih bersih. Kolaborasi kedua negara mencakup pengembangan energi terbarukan, teknologi penyimpanan energi, kendaraan listrik, pengolahan mineral strategis, hingga pembangunan infrastruktur pendukung. Indonesia memiliki sumber daya mineral dan potensi energi terbarukan yang besar, sedangkan China mempunyai kapasitas manufaktur serta teknologi yang berkembang pesat di berbagai bidang energi bersih. Kombinasi keunggulan tersebut membuka peluang bagi kedua negara untuk memperluas investasi yang tidak hanya berorientasi pada produksi bahan mentah. Pemerintah Indonesia juga berkepentingan mendorong peningkatan nilai tambah, transfer teknologi, dan pengembangan industri dalam negeri. Kerja sama energi baru karena itu semakin ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dalam hubungan ekonomi Indonesia dan China.
Perluasan kerja sama berlangsung ketika permintaan terhadap teknologi energi bersih meningkat pesat di kawasan Asia Tenggara. Sepanjang 2026, negara-negara ASEAN telah membelanjakan lebih dari 20 miliar dolar AS untuk produk teknologi bersih buatan China, mulai dari baterai penyimpanan energi, peralatan jaringan listrik, kendaraan listrik, hingga komponen pembangkit energi bersih. Nilai tersebut meningkat sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat Asia Tenggara berkembang menjadi pasar penting bagi industri teknologi bersih China di Asia. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kebutuhan besar seiring pertumbuhan industri, urbanisasi, dan konsumsi listrik. Perubahan tersebut sekaligus membuka ruang bagi investasi baru pada sisi produksi maupun pembangunan rantai pasok energi bersih.
Salah satu bidang yang memiliki prospek besar adalah pengembangan baterai dan sistem penyimpanan energi. Indonesia mempunyai cadangan nikel yang menjadi salah satu bahan penting dalam sejumlah jenis baterai, sementara perusahaan China memiliki pengalaman besar dalam manufaktur baterai dan teknologi kendaraan listrik. Kolaborasi yang berkembang selama beberapa tahun terakhir telah mendorong pembangunan fasilitas pengolahan mineral hingga industri baterai di Indonesia. Pemerintah ingin rantai industri tersebut semakin lengkap sehingga nilai tambah tidak berhenti pada kegiatan penambangan dan pemurnian. Pengembangan sel baterai, komponen, kendaraan listrik, hingga daur ulang menjadi tahapan yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Strategi tersebut juga diharapkan menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kemampuan industri nasional dalam menguasai teknologi baru.
Energi surya menjadi sektor lain yang mempunyai ruang pengembangan cukup besar. Indonesia memiliki potensi energi matahari yang luas, tetapi pemanfaatannya masih membutuhkan pembangunan pembangkit, jaringan, serta sistem penyimpanan yang lebih masif. China merupakan salah satu produsen utama panel surya dan berbagai komponen pendukung di dunia sehingga kerja sama dapat membantu mempercepat penyediaan teknologi dengan skala yang lebih besar. Namun, pemerintah Indonesia juga mempunyai kepentingan agar investasi tidak hanya menghasilkan peningkatan impor peralatan. Pengembangan fasilitas manufaktur dan penggunaan komponen yang diproduksi di dalam negeri menjadi bagian penting untuk membangun industri energi terbarukan nasional. Dengan pola tersebut, percepatan transisi energi dapat berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas manufaktur Indonesia.
Peran sistem penyimpanan energi semakin penting karena pembangkit berbasis matahari dan angin mempunyai karakter produksi yang berubah mengikuti kondisi alam. Baterai berkapasitas besar dapat menyimpan listrik ketika produksi tinggi dan menggunakannya kembali ketika kebutuhan meningkat atau pembangkitan menurun. China saat ini merupakan produsen baterai penyimpanan energi terbesar di dunia, meskipun negara tersebut baru-baru ini dilaporkan menghentikan sementara persetujuan pembangunan fasilitas manufaktur baterai penyimpanan baru di dalam negeri. Perkembangan industri tersebut dapat ikut memengaruhi pola ekspansi perusahaan China ke pasar internasional. Indonesia memiliki peluang menarik investasi sepanjang mampu menyediakan kepastian regulasi, pasar, infrastruktur, dan ekosistem industri yang kompetitif.
Kerja sama energi juga berkaitan erat dengan pengolahan mineral dan pembangunan kawasan industri. Investasi perusahaan China sebelumnya memainkan peran besar dalam perkembangan industri pengolahan nikel Indonesia. Pola serupa kini mulai terlihat pada komoditas lain, termasuk aluminium, yang membutuhkan pasokan listrik dan infrastruktur industri dalam jumlah besar. Produsen China semakin aktif membangun kapasitas di luar negaranya setelah ekspansi produksi aluminium domestik dibatasi. Indonesia menjadi salah satu tujuan utama karena telah memiliki kawasan industri, pelabuhan, jaringan logistik, dan infrastruktur energi yang sebelumnya dikembangkan untuk industri pengolahan mineral. Sejumlah perusahaan China bahkan telah membangun fasilitas peleburan aluminium baru di Indonesia dengan kapasitas produksi yang besar.
Meski menawarkan peluang investasi, ekspansi industri tersebut juga menghadirkan tantangan terhadap agenda transisi energi Indonesia. Fasilitas pemurnian dan pengolahan mineral membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar, sementara sebagian kawasan industri masih mengandalkan pembangkit berbahan bakar fosil. Kondisi itu membuat peningkatan kapasitas energi terbarukan menjadi semakin penting apabila produk yang dihasilkan ingin mempunyai jejak karbon lebih rendah. Pengembangan pembangkit surya, hidro, panas bumi, serta sistem penyimpanan dapat menjadi bagian dari solusi untuk memenuhi kebutuhan energi industri. Kerja sama dengan China karena itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas produksi, tetapi juga bagaimana energi yang digunakan dalam proses produksi menjadi semakin bersih. Standar lingkungan dan keberlanjutan akan semakin menentukan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Pemerintah Indonesia juga berkepentingan memastikan kerja sama menghasilkan transfer pengetahuan dan peningkatan kemampuan tenaga kerja nasional. Investasi pada teknologi baru membutuhkan tenaga ahli dalam bidang teknik listrik, kimia, manufaktur baterai, otomasi, perangkat lunak, hingga pengelolaan jaringan energi. Program pelatihan, penelitian bersama, serta kerja sama universitas dan industri dapat membantu membangun kemampuan tersebut secara bertahap. Indonesia tidak ingin hanya menjadi lokasi produksi karena ketersediaan mineral dan pasar yang besar. Penguasaan teknologi diperlukan agar perusahaan nasional dapat terlibat semakin dalam dalam rantai pasok global. Dengan demikian, manfaat investasi dapat bertahan dalam jangka panjang sekalipun teknologi dan struktur industri energi terus berubah.
Peluang kerja sama semakin besar karena Asia Tenggara sedang mengalami pertumbuhan permintaan listrik yang kuat. Kawasan dengan populasi sekitar 700 juta orang tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen per tahun dan membutuhkan investasi besar untuk memenuhi kebutuhan energi baru. ASEAN sepanjang 2026 tercatat mengimpor panel surya buatan China senilai sekitar 4,1 miliar dolar AS dan baterai penyimpanan energi hampir 7 miliar dolar AS. Impor panel surya bahkan meningkat sekitar 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa transformasi energi di kawasan mulai menciptakan pasar yang semakin besar bagi teknologi bersih. Bagi Indonesia, kondisi itu memberikan peluang tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai basis produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar regional.
Perluasan kerja sama energi baru antara Indonesia dan China pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan kedua negara mengubah investasi menjadi pembangunan industri yang berkelanjutan. Indonesia membutuhkan modal dan teknologi untuk mempercepat transisi energi, sementara perusahaan China melihat pasar dan sumber daya Indonesia sebagai bagian penting dari ekspansi global mereka. Tantangannya adalah memastikan investasi memberikan nilai tambah melalui produksi dalam negeri, penciptaan pekerjaan, transfer teknologi, dan penggunaan energi yang semakin rendah emisi. Penguatan standar lingkungan juga diperlukan agar ekspansi industri tidak bertentangan dengan tujuan pengurangan emisi nasional. Dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, ruang kolaborasi pada baterai, kendaraan listrik, tenaga surya, jaringan listrik, dan mineral strategis diperkirakan tetap terbuka luas. Kerja sama tersebut berpotensi menjadi salah satu pilar penting hubungan ekonomi Indonesia-China sekaligus mendukung transformasi sektor energi nasional.





