Jakarta, 28 Mei 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen resmi melakukan penyesuaian terhadap jumlah soal mata pelajaran matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMA/SMK tahun 2026 setelah muncul banyak keluhan dari peserta didik di berbagai daerah. Perubahan tersebut dilakukan usai evaluasi terhadap simulasi dan uji coba pelaksanaan TKA yang dinilai terlalu membebani siswa, terutama pada aspek durasi pengerjaan dan tingkat kesulitan soal. Banyak siswa sebelumnya mengaku kesulitan menyelesaikan seluruh soal dalam waktu yang tersedia karena kombinasi antara jumlah soal yang cukup banyak dan model pertanyaan berbasis analisis yang membutuhkan waktu berpikir lebih panjang. Kemendikdasmen menilai masukan dari peserta didik, guru, dan sekolah perlu dijadikan pertimbangan agar sistem evaluasi akademik tetap berjalan efektif tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada siswa. Kebijakan baru ini langsung menjadi perhatian publik karena TKA akan menjadi salah satu komponen penting dalam pemetaan kemampuan akademik siswa tingkat menengah.
Dalam penjelasannya, pihak Kemendikdasmen menyebut perubahan jumlah soal matematika dilakukan untuk menyesuaikan keseimbangan antara kemampuan numerasi, daya analisis, dan efektivitas waktu pengerjaan ujian. Sebelumnya, banyak siswa SMA maupun SMK menyampaikan keluhan melalui forum pendidikan dan media sosial terkait panjangnya sesi matematika yang dianggap menguras konsentrasi. Beberapa guru juga menilai jumlah soal yang terlalu banyak membuat siswa kehilangan fokus di pertengahan ujian sehingga hasil yang diperoleh tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan akademik sebenarnya. Dengan pengurangan jumlah soal, pemerintah berharap peserta dapat lebih fokus memahami setiap pertanyaan tanpa harus terburu-buru mengejar waktu. Selain itu, model soal juga disebut akan lebih diarahkan pada penguatan logika dan pemahaman konsep dibanding sekadar perhitungan panjang yang memakan waktu.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa pengurangan jumlah soal bukan berarti menurunkan standar kualitas TKA 2026. Pemerintah justru ingin memastikan bahwa evaluasi akademik dilakukan secara lebih terukur dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran modern. Dalam sistem baru nanti, kualitas soal akan diperkuat agar mampu mengukur kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pemahaman konsep matematika secara lebih mendalam. Beberapa pengamat pendidikan menilai langkah tersebut cukup positif karena selama ini banyak ujian nasional maupun tes akademik terlalu menitikberatkan kuantitas soal dibanding kualitas evaluasi. Dengan pendekatan baru ini, siswa diharapkan tidak hanya mengejar kecepatan menjawab, tetapi juga mampu memahami logika dan proses penyelesaian soal secara menyeluruh.
Di sisi lain, sejumlah sekolah dan guru mulai melakukan penyesuaian metode pembelajaran setelah adanya perubahan kebijakan tersebut. Banyak guru matematika mengaku akan lebih fokus melatih siswa dalam memahami pola soal berbasis analisis dan penalaran dibanding hafalan rumus semata. Sekolah juga mulai menyiapkan simulasi ujian dengan format terbaru agar siswa lebih siap menghadapi TKA 2026 ketika pelaksanaan resmi dimulai nanti. Para siswa sendiri menyambut baik keputusan Kemendikdasmen karena merasa tekanan selama ujian bisa sedikit berkurang dibanding format sebelumnya. Meski demikian, sebagian siswa tetap berharap pemerintah terus memperhatikan keseimbangan antara tingkat kesulitan soal dan waktu pengerjaan agar ujian benar-benar berjalan adil bagi seluruh peserta.
Perubahan jumlah soal matematika TKA SMA/SMK 2026 menunjukkan bahwa pemerintah mulai lebih terbuka terhadap evaluasi dan masukan dari peserta didik maupun tenaga pendidik. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan sistem evaluasi pendidikan yang tidak hanya menekankan hasil akhir, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan kemampuan nyata siswa di lapangan. Kemendikdasmen memastikan proses penyempurnaan format TKA masih akan terus dilakukan sebelum pelaksanaan resmi agar sistem yang diterapkan benar-benar efektif dan sesuai kebutuhan pendidikan nasional. Dengan penyesuaian tersebut, pemerintah berharap TKA 2026 dapat menjadi alat ukur akademik yang lebih akurat, manusiawi, dan mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di Indonesia. Publik kini menantikan bagaimana implementasi format baru tersebut saat diterapkan secara nasional dalam waktu mendatang.






