Misteri Cahaya Bulan Terungkap, Ternyata Bukan Memancarkan Sinar Sendiri

Jakarta, 6 Mei 2026 — Bulan selama ini tampak bersinar terang di langit malam dan sering dianggap memancarkan cahayanya sendiri. Namun secara ilmiah, satelit alami Bumi tersebut sebenarnya tidak menghasilkan cahaya seperti Matahari.

Cahaya yang terlihat dari Bulan berasal dari pantulan sinar Matahari yang mengenai permukaannya. Ketika sinar Matahari menyentuh permukaan Bulan, sebagian cahaya dipantulkan kembali ke arah Bumi sehingga manusia dapat melihat Bulan bercahaya di malam hari.

Fenomena ini membuat Bulan tampak berbeda-beda bentuknya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut dikenal sebagai fase Bulan, mulai dari bulan baru, sabit, separuh, hingga purnama. Semua fase itu dipengaruhi posisi Bulan, Bumi, dan Matahari.

Saat fase purnama terjadi, seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi mendapatkan pencahayaan penuh dari Matahari sehingga tampak sangat terang. Sebaliknya, ketika bulan baru, bagian yang terkena cahaya tidak terlihat dari Bumi sehingga Bulan tampak menghilang di langit malam.

Permukaan Bulan sendiri sebenarnya tidak terlalu mengilap. Jika dibandingkan dengan benda di Bumi, tingkat pantulan cahaya Bulan tergolong rendah. Namun karena ukurannya besar dan berada relatif dekat dengan Bumi, pantulan sinarnya tetap terlihat jelas oleh mata manusia.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa warna cahaya Bulan juga dapat berubah tergantung kondisi atmosfer Bumi. Saat berada dekat cakrawala, Bulan kadang tampak kekuningan atau kemerahan akibat efek hamburan cahaya di atmosfer.

Fenomena cahaya Bulan sejak dahulu juga memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Selain menjadi penanda waktu dalam berbagai budaya dan kalender tradisional, cahaya Bulan sering dimanfaatkan untuk aktivitas malam hari sebelum adanya penerangan modern.

Keindahan Bulan yang tampak bercahaya di langit malam menjadi salah satu fenomena alam paling menarik yang terus memikat perhatian manusia. Meski tidak menghasilkan cahaya sendiri, pantulan sinar Matahari dari permukaannya tetap menghadirkan pemandangan menakjubkan bagi penduduk Bumi.

Related Posts

Tengkuk Nyeri Belum Tentu Pertanda Kolesterol Tinggi, Ini Penjelasan Dokter

Jakarta, 27 Mei 2026 – Keluhan nyeri pada bagian tengkuk sering kali dikaitkan masyarakat dengan naiknya kadar kolesterol dalam tubuh. Banyak orang percaya rasa pegal atau berat di leher belakang…

You Missed

Pemukim Israel Didakwa atas Dugaan Pembunuhan Aktivis Palestina di Tepi Barat

Pemukim Israel Didakwa atas Dugaan Pembunuhan Aktivis Palestina di Tepi Barat

Keluarga di Pandeglang Tinggal di Rumah Rusak, Ngungsi Tiap Angin Kencang

Keluarga di Pandeglang Tinggal di Rumah Rusak, Ngungsi Tiap Angin Kencang

Pemprov DKI Kucurkan Rp1 Triliun, Sulap 100 Hektare Lahan di Banten Jadi Kawasan Peternakan

Pemprov DKI Kucurkan Rp1 Triliun, Sulap 100 Hektare Lahan di Banten Jadi Kawasan Peternakan

Sengit, Menlu Selandia Baru Ribut dengan Dubes China, Hubungan Wellington-Beijing Jadi Sorotan

Sengit, Menlu Selandia Baru Ribut dengan Dubes China, Hubungan Wellington-Beijing Jadi Sorotan

KPK Amankan 21 Orang dalam OTT Bupati Pemalang, Pemeriksaan Intensif Digelar untuk Ungkap Peran Masing-Masing

KPK Amankan 21 Orang dalam OTT Bupati Pemalang, Pemeriksaan Intensif Digelar untuk Ungkap Peran Masing-Masing

Kebakaran Hutan Besar Landa Prancis, Ratusan Rumah Rusak dan Ribuan Warga Mengungsi

Kebakaran Hutan Besar Landa Prancis, Ratusan Rumah Rusak dan Ribuan Warga Mengungsi