Kubu Raya, 25 Agustus 2026 – Kondisi udara di wilayah Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, terganggu akibat kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut. Langit terlihat putih gelap dan jarak pandang menurun, sementara aroma seperti pembakaran daun tercium cukup kuat di sejumlah lokasi. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Sungai Raya menjadi salah satu kawasan yang terdampak asap karena terdapat titik karhutla di wilayah sekitarnya. Situasi ini membuat masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara, terutama ketika kabut asap semakin pekat pada waktu-waktu tertentu.
Kabut asap terlihat menyelimuti kawasan Sungai Raya dengan warna langit yang tidak seperti kondisi normal. Pandangan ke arah kejauhan tampak tertutup lapisan putih keabu-abuan, sementara bau pembakaran terasa ketika masyarakat berada di luar ruangan. Aroma tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa asap berasal dari aktivitas kebakaran yang terjadi di sekitar wilayah tersebut. Kondisi udara seperti ini dapat membuat aktivitas masyarakat menjadi kurang nyaman, khususnya bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah. Jarak pandang yang menurun juga menjadi perhatian bagi pengguna kendaraan karena asap tebal dapat mengurangi kemampuan melihat kondisi jalan.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Kawasan tersebut diketahui memiliki titik karhutla yang membuat kondisi lingkungan di sekitarnya terdampak asap. Area yang terbakar didominasi semak belukar, pepohonan, serta rumpun bambu yang tumbuh cukup rapat. Di sejumlah bagian terlihat lahan terbuka dengan bekas aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan. Beberapa pepohonan juga tampak gosong, sementara sisa vegetasi kering masih terlihat di sekitar lokasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa material yang mudah terbakar masih terdapat di kawasan yang terdampak.
Asap dari kebakaran lahan kemudian terbawa ke wilayah permukiman dan kawasan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Ketika angin bergerak dengan kondisi tertentu, asap dapat bertahan lebih lama di permukaan dan membuat langit terlihat semakin keruh. Situasi tersebut dapat berubah sepanjang hari bergantung pada arah angin, intensitas kebakaran, serta kondisi atmosfer. Pada pagi atau malam hari, kabut asap dapat terasa lebih pekat karena kondisi atmosfer mendukung penumpukan partikulat di dekat permukaan. Masyarakat pun perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan kegiatan di luar rumah.
Kondisi di Sungai Raya terjadi ketika jumlah titik panas di Kalimantan Barat cukup tinggi. Data yang dihimpun menunjukkan ribuan hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, dengan sebaran yang cukup luas. Selain Kubu Raya, titik panas juga ditemukan di Ketapang, Sanggau, Landak, Kayong Utara, serta Melawi. Banyaknya titik panas tersebut meningkatkan potensi munculnya asap dalam jumlah besar apabila terjadi kebakaran di wilayah yang memiliki vegetasi kering. Penyebaran asap kemudian dapat memengaruhi wilayah yang letaknya cukup jauh dari lokasi sumber api.
Kualitas udara di beberapa wilayah Kalimantan Barat juga telah mengalami penurunan akibat konsentrasi partikulat yang meningkat. Di Sungai Raya, konsentrasi PM2.5 sempat tercatat pada tingkat yang berbahaya. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan ketika terhirup. Kondisi udara yang buruk menjadi perhatian terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan. Pemerintah perlu terus memantau kualitas udara dan menyampaikan informasi kepada masyarakat agar warga dapat menyesuaikan aktivitas sesuai kondisi lingkungan.
Kabut asap juga dapat mengganggu mobilitas masyarakat apabila jarak pandang turun secara signifikan. Pengendara kendaraan bermotor perlu lebih berhati-hati ketika melewati kawasan yang diselimuti asap karena objek di depan dapat terlihat lebih lambat. Kondisi jalan yang ramai ditambah jarak pandang terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak juga dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat. Penggunaan pelindung pernapasan juga menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan partikel dari udara tercemar.
Penanganan karhutla di Kalimantan Barat dilakukan melalui berbagai upaya, termasuk pemadaman dari darat dan udara. Sejumlah helikopter water bombing dikerahkan untuk menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit dipadamkan secara langsung oleh petugas di darat. Wilayah yang menjadi sasaran antara lain Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, hingga Sambas. Upaya pemadaman melalui udara dilakukan untuk membantu mempercepat pengendalian api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain. Namun, kondisi lahan yang kering dan vegetasi yang mudah terbakar membuat proses pemadaman tetap menghadapi tantangan.
Selain pemadaman, pemerintah juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kondisi yang mendukung terjadinya karhutla. Pesawat digunakan untuk menyemai bahan tertentu ke atmosfer dengan harapan dapat memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah yang membutuhkan. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mendapatkan tambahan curah hujan sehingga lahan yang kering dapat kembali memiliki kelembapan. Hujan juga diharapkan membantu mengurangi konsentrasi asap di udara dan meningkatkan jarak pandang masyarakat. Meski demikian, hasil operasi tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang sesuai.
Persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran yang terlihat secara langsung. Lahan yang telah terbakar dapat menyisakan bara atau titik api yang berpotensi kembali menyala ketika kondisi kembali kering. Karena itu, pemantauan harus tetap dilakukan setelah api utama berhasil dikendalikan. Petugas perlu memastikan tidak ada titik yang masih menghasilkan asap atau memiliki potensi penyalaan kembali. Pengawasan juga diperlukan di sekitar kawasan yang telah dibuka atau dibersihkan karena aktivitas pembakaran untuk membuka lahan dapat menjadi salah satu sumber munculnya api. Pencegahan menjadi semakin penting ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran kebakaran.
Masyarakat juga memiliki peran dalam membantu mencegah karhutla. Warga dapat melaporkan apabila menemukan aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi menyebar atau melihat titik api di sekitar permukiman. Informasi yang disampaikan lebih awal dapat membantu petugas melakukan pengecekan dan pemadaman sebelum api berkembang. Warga juga diimbau tidak melakukan pembakaran terbuka, terutama ketika kondisi lahan sangat kering dan angin cukup kencang. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menjalar ke semak dan vegetasi lain sehingga sulit dikendalikan.
Kabut asap yang menyelimuti Sungai Raya menjadi gambaran nyata dampak karhutla terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Langit yang berubah putih gelap, aroma pembakaran yang menyengat, hingga penurunan jarak pandang menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak berhenti di lokasi lahan yang terbakar. Asap dapat terbawa angin dan memengaruhi kawasan permukiman serta aktivitas masyarakat. Pemerintah terus melakukan pemadaman dan pemantauan, sementara masyarakat di wilayah terdampak perlu menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara. Penanganan yang cepat dan pencegahan pembakaran lahan diharapkan dapat membantu mengurangi kabut asap serta mencegah meluasnya karhutla di Kalimantan Barat.





