Jakarta, 17 September 2026 – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkap hasil pemeriksaan terhadap Febiona Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang sebelumnya diduga mengalami gangguan ingatan setelah menjadi salah satu korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan tim dokter, tidak ditemukan gangguan fungsi otak pada Febiona. Fungsi memori jangka pendek maupun jangka panjangnya juga dinilai berada dalam kondisi baik. Pemeriksaan neurologis hingga elektroensefalografi atau EEG tidak menunjukkan adanya kelainan yang mengarah pada gangguan fungsi otak. Hasil tersebut memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi Febiona setelah sebelumnya muncul kekhawatiran bahwa dirinya mengalami hilang ingatan. Tim medis tetap melakukan evaluasi secara menyeluruh untuk memastikan kondisi fisik dan psikologis pasien sebelum menentukan langkah perawatan berikutnya.
Dokter spesialis anak dan konsultan neurologi anak RSCM Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti menjelaskan Febiona telah menjalani pemeriksaan langsung setelah dirujuk ke Jakarta. Pemeriksaan dilakukan melalui wawancara terhadap pasien dan keluarga untuk mengetahui riwayat keluhan sejak awal. Tim medis juga mempelajari data perawatan yang sebelumnya diperoleh Febiona selama menjalani penanganan di Sumatera Utara. Pemeriksaan fisik dan neurologis kemudian dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat tanda gangguan pada sistem saraf. Selain itu, dokter menggunakan EEG untuk melihat aktivitas listrik otak. Dari keseluruhan pemeriksaan tersebut, tim medis tidak menemukan indikasi gangguan fungsi otak yang sebelumnya dikhawatirkan.
Kondisi memori Febiona menjadi salah satu bagian yang mendapatkan perhatian khusus. Tim dokter memeriksa kemampuan mengingat informasi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hasilnya menunjukkan kedua fungsi tersebut berjalan dengan baik ketika pemeriksaan dilakukan. Febiona dapat berkomunikasi dengan tim medis serta memberikan informasi mengenai berbagai kejadian yang dialaminya. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan dokter untuk mengevaluasi fungsi kognitif. Meski terdapat beberapa bagian kejadian yang tidak seluruhnya diingat, secara keseluruhan Febiona mampu menggambarkan pengalaman dan kondisi yang dirasakannya.
Psikiater anak dan remaja RSCM dr. Tjhin Wiguna juga melakukan penelusuran terhadap kondisi Febiona. Berdasarkan pemeriksaan klinis, Febiona mampu mengetahui tempat dirinya berada, waktu, tanggal, serta orang-orang di sekitarnya. Kemampuan tersebut menunjukkan fungsi orientasi pasien berada dalam kondisi baik ketika diperiksa. Tim medis tidak melihat adanya disorientasi yang mengarah pada persoalan serius dalam fungsi kognitif. Memori kerja Febiona juga dinilai dapat berfungsi dengan baik. Pemeriksaan tersebut menjadi penting karena dugaan hilang ingatan sebelumnya menimbulkan perhatian besar terhadap kondisi neurologis maupun psikologis sang siswi.
Febiona sebelumnya dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG di Kabupaten Karo. Orang tuanya kemudian menyampaikan bahwa selama masa perawatan terdapat kondisi yang membuat Febiona diduga mengalami gangguan ingatan. Perkembangan tersebut mendapatkan perhatian karena keluhan yang muncul dianggap berbeda dibandingkan gejala keracunan makanan pada umumnya. Febiona kemudian menjalani penanganan secara bertahap di sejumlah fasilitas kesehatan. Ia sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit di Karo sebelum melanjutkan pemeriksaan di Medan. Kondisinya kemudian menjadi perhatian pemerintah pusat sehingga diputuskan dilakukan pemeriksaan lanjutan di RSCM.
Pemindahan Febiona ke Jakarta dilakukan agar pemeriksaan dapat melibatkan tim dokter dari berbagai bidang spesialisasi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menjelaskan RSCM mempunyai tenaga medis dengan keahlian yang lebih lengkap untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi tersebut. Dokter spesialis anak, neurologi anak, penyakit dalam anak, hingga psikiatri anak dilibatkan dalam proses pemeriksaan. Pendekatan multidisiplin digunakan karena keluhan yang dilaporkan tidak hanya membutuhkan penilaian terhadap kondisi fisik. Aspek neurologis dan psikologis juga perlu diperiksa untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh. Dengan demikian, penyebab setiap keluhan dapat dinilai berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan bukan hanya berdasarkan gejala yang terlihat sebelumnya.
Selain Febiona, seorang siswi lainnya bernama Agnesia Paruliana Silitonga juga dibawa ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan di RSCM. Keduanya merupakan korban yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut setelah kejadian keracunan MBG di Kabupaten Karo. Pemerintah memilih melakukan pemeriksaan lanjutan karena terdapat kondisi yang membutuhkan perhatian lebih dibandingkan korban lainnya. Tim RSCM kemudian menerima kedua pasien dan melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan masing-masing. Kondisi setiap pasien tidak serta-merta disamakan karena keluhan serta perjalanan penyakit dapat berbeda. Pemeriksaan individual menjadi dasar bagi dokter dalam menentukan tindakan medis yang diperlukan.
Rujukan ke Jakarta juga dilakukan setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan perhatian terhadap kondisi para korban. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution sebelumnya menjelaskan tim medis di Medan sebenarnya mempunyai kemampuan untuk memberikan penanganan. Namun, pemerintah pusat menginginkan pemeriksaan lanjutan sekaligus pemantauan lebih dekat terhadap pasien yang mempunyai indikasi medis maupun trauma lebih tinggi. Karena itu, Febiona dan Agnesia kemudian dibawa menuju RSCM. Pemeriksaan lanjutan tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai kondisi kesehatan keduanya. Hasil evaluasi terhadap Febiona kini menunjukkan tidak ditemukan gangguan fungsi otak maupun masalah serius pada memorinya.
EEG menjadi salah satu pemeriksaan penunjang yang digunakan dalam evaluasi terhadap Febiona. Pemeriksaan tersebut merekam aktivitas listrik otak dan dapat membantu dokter menilai adanya gangguan tertentu pada fungsi neurologis. Dalam kasus Febiona, hasil EEG tidak menunjukkan gangguan yang mendukung dugaan adanya masalah pada fungsi otak. Temuan tersebut kemudian dibandingkan dengan pemeriksaan fisik, neurologis, serta hasil wawancara klinis. Dokter tidak hanya mengandalkan satu jenis pemeriksaan untuk menarik kesimpulan mengenai kondisi pasien. Kombinasi berbagai hasil pemeriksaan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai fungsi otak dan kemampuan kognitif Febiona.
Tim medis juga memperhatikan kondisi psikologis pasien karena pengalaman keracunan dan proses perawatan dapat menimbulkan tekanan tersendiri. Kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi cara mengingat maupun menceritakan suatu kejadian, terutama ketika pengalaman tersebut berlangsung dalam situasi penuh tekanan. Karena itu, keterlibatan psikiater anak diperlukan untuk membantu membedakan kemungkinan gangguan neurologis dengan respons psikologis terhadap pengalaman yang dialami. Evaluasi tidak dilakukan untuk langsung memberikan kesimpulan berdasarkan satu keluhan. Dokter melakukan penelusuran terhadap keseluruhan kondisi pasien. Pendekatan tersebut penting agar diagnosis maupun rekomendasi perawatan mempunyai dasar medis yang memadai.
Hasil pemeriksaan terbaru juga membuka peluang bagi Febiona untuk kembali menjalani aktivitas secara bertahap apabila kondisinya terus stabil. Tim medis menilai fungsi kognitif yang baik menjadi salah satu indikator positif dalam proses pemulihan. Namun, keputusan mengenai aktivitas pasien tetap harus mempertimbangkan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Pemulihan setelah keracunan tidak hanya berkaitan dengan fungsi ingatan, tetapi juga kondisi fisik dan psikologis. Pemantauan tetap diperlukan apabila kembali muncul keluhan setelah pasien meninggalkan rumah sakit. Keluarga juga mempunyai peranan dalam mengamati perubahan kondisi ketika Febiona kembali ke lingkungan sehari-harinya.
Kasus tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pemeriksaan medis menyeluruh sebelum menyimpulkan adanya gangguan ingatan. Keluhan lupa terhadap bagian tertentu dari sebuah kejadian tidak selalu berarti seseorang mengalami amnesia atau gangguan fungsi otak. Dokter perlu menilai berbagai faktor melalui wawancara, pemeriksaan neurologis, fungsi kognitif, serta pemeriksaan penunjang apabila diperlukan. Dalam kasus Febiona, hasil pemeriksaan saat ini tidak menemukan masalah pada memori kerja maupun orientasinya. Ingatan jangka pendek dan jangka panjang juga dinilai berada dalam kondisi baik. Temuan tersebut menjadi dasar tim RSCM menyatakan tidak terdapat gangguan fungsi otak yang sebelumnya dicurigai.
RSCM pada akhirnya memastikan kondisi Febiona Purba tidak menunjukkan gangguan fungsi otak berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan. Siswi asal Karo tersebut mempunyai kemampuan mengingat jangka pendek dan panjang yang baik, fungsi kognitif yang memadai, serta tidak menunjukkan disorientasi ketika diperiksa. Pemeriksaan EEG juga tidak menemukan gangguan yang mendukung dugaan masalah neurologis. Hasil tersebut sekaligus memberikan penjelasan terhadap kabar sebelumnya yang menyebut Febiona diduga kehilangan ingatan setelah mengalami keracunan MBG. Tim medis tetap melakukan evaluasi berdasarkan kondisi pasien secara menyeluruh dan mempertimbangkan aspek fisik maupun psikologis. Dengan perkembangan tersebut, perhatian berikutnya diarahkan pada proses pemulihan agar Febiona dapat kembali bersekolah dan menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.





