Jakarta, 1 September 2026 – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mengawal program pengabdian masyarakat berbasis Smart Aquaponic sebagai salah satu upaya mendorong ketersediaan pangan bergizi secara berkelanjutan. Program tersebut memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang memanfaatkan sirkulasi air sehingga penggunaan lahan dan sumber daya dapat dilakukan secara lebih efisien. Konsep tersebut dinilai relevan untuk diterapkan di tengah kebutuhan masyarakat terhadap sumber pangan yang mudah diakses dan memiliki nilai gizi. Melalui kegiatan pengabdian, UNG tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam memahami cara pengelolaan sistem secara mandiri. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis pangan di tingkat masyarakat.
Smart Aquaponic menggabungkan sistem akuakultur dengan hidroponik dalam sebuah ekosistem yang saling mendukung. Air dari kolam ikan yang mengandung sisa metabolisme dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman setelah melalui proses tertentu, sementara tanaman membantu menyerap unsur hara dari air. Air yang telah mengalami proses penyaringan kemudian dapat dikembalikan ke sistem budidaya ikan. Pola tersebut membuat kebutuhan pergantian air dapat ditekan dibandingkan metode budidaya konvensional. Selain efisiensi penggunaan air, sistem ini memungkinkan masyarakat menghasilkan dua jenis pangan sekaligus, yakni ikan sebagai sumber protein dan sayuran sebagai sumber vitamin serta mineral.
Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari peran perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi tantangan ketahanan pangan. UNG melalui kegiatan pengabdian berupaya memastikan teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada tahap demonstrasi, tetapi dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat sasaran. Pendampingan dilakukan agar masyarakat mengetahui tahapan persiapan, pengelolaan kualitas air, pemberian pakan ikan, hingga perawatan tanaman. Pengetahuan mengenai pemantauan kondisi sistem juga penting karena keseimbangan antara ikan, air, dan tanaman menentukan keberhasilan budidaya. Dengan keterampilan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengoperasikan Smart Aquaponic secara mandiri setelah program pendampingan selesai.
Selain menghasilkan bahan pangan, penerapan Smart Aquaponic berpotensi menjadi sarana edukasi mengenai pola konsumsi pangan bergizi. Masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana ikan dan sayuran diproduksi dalam satu sistem yang terintegrasi. Hasil budidaya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif. Apabila dikelola secara konsisten, sistem tersebut juga dapat memberikan alternatif sumber pendapatan melalui penjualan hasil panen. Karena itu, manfaat program tidak hanya berkaitan dengan aspek teknologi, tetapi juga menyentuh sisi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Konsep aquaponik juga memiliki keunggulan dari sisi pemanfaatan ruang. Sistem tersebut dapat diterapkan pada lahan yang relatif terbatas sehingga berpotensi digunakan di kawasan permukiman atau lingkungan yang tidak memiliki area pertanian luas. Penataan instalasi dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi dan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut membuka peluang bagi keluarga untuk menghasilkan sebagian kebutuhan pangan secara mandiri tanpa harus memiliki lahan pertanian yang besar. Namun, keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada pemeliharaan sistem, ketersediaan sarana, serta pemahaman pengguna terhadap karakteristik ikan dan tanaman yang dibudidayakan.
Dalam pelaksanaannya, pengabdian masyarakat berbasis Smart Aquaponic juga dapat menjadi ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan akademik secara langsung. Perguruan tinggi dapat mengembangkan teknologi yang lebih sesuai dengan kondisi lokal sekaligus memperoleh masukan dari masyarakat mengenai kebutuhan di lapangan. Interaksi tersebut penting agar inovasi yang dikembangkan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mudah digunakan dan memiliki biaya operasional yang sesuai dengan kemampuan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa juga dapat memperkuat proses transfer pengetahuan sekaligus membangun pengalaman dalam menyelesaikan persoalan nyata. Dengan demikian, kegiatan pengabdian menjadi bagian dari hubungan timbal balik antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Aspek keberlanjutan menjadi perhatian penting dalam pengembangan Smart Aquaponic. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan dan perbaikan sederhana sehingga sistem tidak bergantung sepenuhnya pada tim pendamping. Pengelolaan hasil panen juga perlu direncanakan agar manfaat ekonomi dapat terus berkembang. Selain itu, pemilihan jenis ikan dan tanaman harus mempertimbangkan kondisi lingkungan, ketersediaan pakan, kebutuhan pasar, serta kemampuan masyarakat dalam melakukan pemeliharaan. Pendampingan secara berkala dapat membantu mengidentifikasi kendala dan memastikan teknologi tetap berjalan sesuai tujuan awal.
Program tersebut juga sejalan dengan kebutuhan untuk memperkuat ketahanan pangan melalui pendekatan yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan. Sistem budidaya yang menggabungkan produksi ikan dan tanaman memungkinkan pemanfaatan sumber daya dilakukan secara lebih terintegrasi. Jika diterapkan secara tepat, Smart Aquaponic dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung ketersediaan pangan rumah tangga sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai produksi pangan berkelanjutan. Peran perguruan tinggi dalam mengawal penerapan teknologi menjadi penting agar inovasi dapat terus dikembangkan berdasarkan pengalaman masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak lainnya juga dapat memperluas dampak program apabila hasil penerapan menunjukkan manfaat yang konsisten.
Melalui pengabdian berbasis Smart Aquaponic, UNG menunjukkan upaya menghubungkan inovasi akademik dengan kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang bergizi dan berkelanjutan. Sistem tersebut menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan produksi ikan dan sayuran dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan membuat masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi mampu mengelola dan mengembangkannya secara mandiri. Dalam jangka panjang, penerapan Smart Aquaponic berpotensi mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Keberlanjutan program, penguatan kapasitas masyarakat, dan penyesuaian teknologi dengan kondisi lokal akan menjadi kunci agar manfaat pengabdian UNG dapat terus dirasakan.





