Jakarta, 13 September 2026 – Menteri Agama menegaskan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tidak semestinya dipandang hanya sebagai ajang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an. Penyelenggaraan MTQ diharapkan menjadi momentum untuk melahirkan sikap Qurani yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik pada tingkat individu, keluarga maupun masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an perlu diterjemahkan menjadi perilaku yang menjunjung kejujuran, kepedulian, kedamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama. Dengan cara tersebut, kemeriahan MTQ tidak berhenti ketika rangkaian perlombaan selesai, melainkan meninggalkan pengaruh nyata dalam kehidupan sosial. Pemerintah juga mendorong masyarakat menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat dimensi pembinaan keagamaan melalui penyelenggaraan MTQ.
MTQ selama ini menjadi salah satu kegiatan keagamaan yang mendapat perhatian luas dari masyarakat di berbagai daerah. Pesertanya tidak hanya berkompetisi dalam kemampuan tilawah, tetapi juga mengikuti sejumlah cabang yang menguji pemahaman, hafalan, penulisan, dan pendalaman kandungan Al-Qur’an. Karena itu, penyelenggaraannya dinilai memiliki ruang yang besar untuk memperkuat literasi keagamaan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kitab suci. Menteri Agama mengingatkan prestasi dalam perlombaan memang patut diapresiasi, tetapi tujuan yang lebih luas adalah bagaimana nilai Al-Qur’an benar-benar hidup di tengah masyarakat. Para peserta diharapkan menjadi teladan melalui kemampuan sekaligus perilaku yang mencerminkan pesan-pesan yang mereka pelajari. Masyarakat yang menyaksikan MTQ juga diharapkan mendapatkan dorongan untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an dan memahami kandungannya.
Sikap Qurani yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca ayat secara fasih dan benar. Implementasinya dapat terlihat melalui kebiasaan berkata jujur, menghormati perbedaan, membantu orang yang membutuhkan, menjaga persaudaraan, serta menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat dan interaksi di ruang digital semakin dominan. Penyebaran informasi yang tidak benar, ujaran kebencian, perundungan, dan berbagai bentuk konflik sosial menjadi tantangan yang membutuhkan penguatan karakter. Pemahaman terhadap ajaran agama diharapkan memberikan landasan moral agar masyarakat mampu menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab. MTQ karena itu dapat menjadi ruang untuk mengingatkan kembali pentingnya keseimbangan antara kecerdasan, kemampuan keagamaan, dan akhlak.
Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian besar dalam pembinaan melalui kegiatan MTQ. Kehadiran peserta berusia muda memperlihatkan regenerasi pembaca, penghafal, dan pengkaji Al-Qur’an terus berlangsung di berbagai daerah. Pembinaan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui keluarga, sekolah, pesantren, lembaga pendidikan keagamaan, dan lingkungan masyarakat. Anak-anak yang memiliki kemampuan dalam bidang Al-Qur’an juga membutuhkan ruang pengembangan agar potensinya tidak berhenti setelah mengikuti kompetisi. Prestasi dalam MTQ dapat menjadi pintu awal untuk memperdalam pengetahuan sekaligus membentuk karakter yang kuat. Dengan pendampingan yang konsisten, generasi muda diharapkan mampu menjadi bagian dari masyarakat yang religius, terbuka, berpengetahuan, dan memiliki kepedulian sosial.
Penyelenggaraan MTQ juga memiliki dimensi persatuan karena mempertemukan peserta dan masyarakat dari berbagai latar belakang daerah. Mereka hadir dengan budaya, tradisi, bahasa daerah, dan pengalaman sosial yang berbeda, tetapi dipersatukan melalui kecintaan terhadap Al-Qur’an. Pertemuan semacam ini dinilai dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat sekaligus menumbuhkan rasa saling menghargai. Semangat kompetisi tetap perlu ditempatkan dalam kerangka persaudaraan sehingga kemenangan bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Peserta yang belum memperoleh hasil terbaik tetap membawa pengalaman, pengetahuan, dan jaringan persahabatan yang dapat dikembangkan setelah kegiatan selesai. Nilai kebersamaan tersebut menjadi salah satu manfaat penting MTQ di luar aspek perlombaan.
Menteri Agama juga mendorong penyelenggaraan kegiatan keagamaan agar memberikan dampak yang semakin luas terhadap kualitas kehidupan masyarakat. Pembacaan Al-Qur’an perlu berjalan beriringan dengan upaya memahami makna dan menerapkannya sesuai konteks kehidupan. Masyarakat diharapkan tidak berhenti pada aspek seremonial, tetapi mampu membawa pesan keagamaan ke dalam lingkungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Sikap disiplin, amanah, adil, serta peduli terhadap kelompok yang membutuhkan merupakan contoh nilai yang dapat diwujudkan secara konkret. Pendekatan tersebut membuat pembinaan keagamaan memiliki hubungan langsung dengan pembangunan karakter manusia. MTQ kemudian dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat kesadaran tersebut secara berkelanjutan.
Peran keluarga dinilai tidak kalah penting dalam membentuk generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Kebiasaan membaca dan mempelajari kitab suci akan lebih mudah tumbuh apabila diperkenalkan secara konsisten sejak usia dini. Orang tua dapat memberikan teladan dengan menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung pembelajaran agama tanpa mengabaikan pendidikan umum dan perkembangan anak. Dukungan tersebut juga penting bagi anak-anak yang menunjukkan kemampuan khusus dalam tilawah, tahfiz, tafsir, maupun cabang keilmuan lainnya. Prestasi yang diperoleh sebaiknya tidak hanya diarahkan untuk mengejar penghargaan, melainkan menjadi sarana memperdalam pemahaman dan memperbaiki perilaku. Dengan demikian, nilai yang diperkenalkan melalui MTQ dapat berlanjut dalam kehidupan keluarga dan tidak berhenti di panggung perlombaan.
Di tingkat masyarakat, semangat Qurani juga diharapkan mampu memperkuat kepedulian terhadap persoalan sosial. Nilai agama dapat diwujudkan melalui perhatian terhadap masyarakat miskin, anak yatim, kelompok rentan, pendidikan, lingkungan, serta berbagai persoalan kemanusiaan lainnya. Kehadiran seseorang yang memahami Al-Qur’an idealnya memberikan manfaat bagi lingkungan tempatnya berada. Hal tersebut membuat ukuran keberhasilan pembinaan keagamaan menjadi lebih luas daripada kemampuan individual dalam membaca atau menghafalkan ayat. Masyarakat membutuhkan figur yang mampu menghubungkan pemahaman keagamaan dengan tindakan nyata yang membawa kebaikan. MTQ dapat membantu melahirkan figur-figur tersebut apabila pembinaan terhadap peserta diteruskan secara konsisten setelah kompetisi berakhir.
Pemerintah daerah dan lembaga keagamaan memiliki peran strategis untuk memastikan semangat MTQ tetap hidup sepanjang tahun. Program pembinaan dapat diperkuat melalui rumah tahfiz, lembaga pendidikan Al-Qur’an, pesantren, masjid, serta kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat. Para peserta berprestasi juga dapat dilibatkan dalam kegiatan edukasi agar kemampuan mereka memberikan manfaat lebih luas. Pembinaan yang berkelanjutan akan membuat penyelenggaraan MTQ tidak hanya menghasilkan juara pada setiap cabang, tetapi turut membangun ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang kuat. Kolaborasi pemerintah, tokoh agama, pendidik, keluarga, dan masyarakat menjadi penting untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan dukungan yang terarah, kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat berkembang bersamaan dengan penguatan karakter dan wawasan kebangsaan.
MTQ pada akhirnya diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemahaman keagamaan dan perilaku nyata di tengah masyarakat. Kemampuan membaca, menghafal, menulis, serta memahami Al-Qur’an merupakan pencapaian penting, tetapi manfaatnya akan semakin besar apabila tercermin dalam sikap sehari-hari. Kejujuran, kedamaian, kepedulian, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama menjadi nilai yang perlu terus ditumbuhkan. Generasi muda juga diharapkan mengambil peran utama dalam menjaga tradisi pembelajaran Al-Qur’an sekaligus menjawab tantangan kehidupan modern. Dengan semangat tersebut, MTQ tidak sekadar menjadi agenda kompetisi keagamaan yang berlangsung secara berkala. Penyelenggaraannya dapat menjadi sarana membangun masyarakat yang memiliki pengetahuan, akhlak, persaudaraan, serta kepedulian yang semakin kuat.





