Jakarta, 27 Agustus 2026 – Puncak musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi cuaca yang lebih kering membuat vegetasi dan lahan mudah terbakar, sementara asap yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak karhutla, terutama kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Asap karhutla mengandung berbagai partikel dan polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam jumlah tinggi maupun dalam waktu yang cukup lama dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Risiko tersebut menjadi lebih besar ketika konsentrasi polutan di udara meningkat akibat kebakaran yang terjadi di dekat permukiman.
Kelompok yang menjadi perhatian utama adalah anak-anak. Sistem pernapasan anak masih berkembang sehingga lebih sensitif terhadap kualitas udara yang buruk. Mereka juga cenderung memiliki aktivitas fisik yang lebih tinggi dan lebih sering berada di luar ruangan. Ketika asap menyelimuti suatu wilayah, orang tua perlu membatasi aktivitas anak di luar rumah serta memastikan mereka tetap berada di lingkungan dengan kualitas udara yang lebih baik.
Lansia juga termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh menghadapi paparan polutan dapat menurun. Lansia yang memiliki gangguan pada jantung atau pernapasan dapat mengalami kondisi yang lebih berat ketika terpapar asap. Karena itu, keluarga perlu memantau kondisi kesehatan lansia dan mengurangi paparan udara luar ketika kualitas udara sedang buruk.
Selain anak-anak dan lansia, orang yang memiliki penyakit pernapasan maupun penyakit kardiovaskular juga berisiko mengalami gangguan kesehatan ketika terjadi pencemaran udara akibat karhutla. Asap dapat memperburuk gejala yang sebelumnya terkendali. Masyarakat dengan kondisi tersebut perlu lebih disiplin mengikuti informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tingkat polusi meningkat.
Kemenkes mengimbau masyarakat menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah dalam kondisi udara tercemar. Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel tertentu yang terhirup, meskipun penggunaannya bukan pengganti upaya untuk menghindari sumber asap. Ketika kondisi udara memburuk, masyarakat sebaiknya lebih banyak berada di dalam ruangan dan menutup pintu serta jendela untuk mengurangi masuknya asap dari luar.
Kondisi rumah juga perlu diperhatikan selama terjadi kabut asap. Ruangan sebaiknya memiliki ventilasi yang dapat diatur sesuai kondisi kualitas udara. Jika udara di luar sangat tercemar, membuka seluruh jendela justru dapat membuat asap lebih mudah masuk ke dalam rumah. Masyarakat dapat memanfaatkan ruangan yang paling terlindung dari paparan asap sebagai tempat berkumpul, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan anggota keluarga yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Gejala gangguan kesehatan akibat paparan asap perlu segera diperhatikan. Batuk yang terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, napas berbunyi, mata mengalami iritasi berat, atau kondisi tubuh yang memburuk merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan. Jika muncul keluhan yang berat atau sulit bernapas, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Karhutla juga dapat memberikan dampak kesehatan secara tidak langsung. Aktivitas sekolah, pekerjaan, dan kegiatan masyarakat dapat terganggu ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak mungkin perlu mengurangi kegiatan luar ruangan, sementara masyarakat yang bekerja di lapangan menghadapi risiko paparan lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat pengendalian kebakaran menjadi penting bukan hanya untuk melindungi lingkungan, tetapi juga untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas.
Pencegahan karhutla menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko tersebut. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, terutama ketika kondisi cuaca sangat kering dan angin dapat membantu api menyebar dengan cepat. Api yang awalnya berasal dari area kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas apabila tidak segera dikendalikan. Pengelola lahan dan pemerintah daerah juga perlu meningkatkan pemantauan terhadap kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Kesiapsiagaan menghadapi karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah daerah, petugas pemadam, aparat keamanan, tenaga kesehatan, pengelola kawasan, dan masyarakat perlu memiliki koordinasi yang baik. Pemantauan titik panas dan deteksi dini dapat membantu mempercepat penanganan sebelum api meluas. Sementara itu, sektor kesehatan perlu memastikan fasilitas pelayanan siap menghadapi peningkatan jumlah warga yang mengalami gangguan akibat asap.
Puncak kemarau pada akhirnya bukan hanya meningkatkan ancaman kebakaran terhadap hutan dan lahan, tetapi juga membawa risiko terhadap kesehatan masyarakat. Anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular perlu mendapatkan perhatian khusus ketika kualitas udara menurun. Kewaspadaan, pembatasan aktivitas luar ruangan, perlindungan dari paparan asap, dan penanganan medis secara cepat ketika muncul gejala menjadi langkah penting untuk mengurangi dampaknya.





