Jakarta, 2 September 2026 – Wakil Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Dekananto Eko Purwono resmi menyandang pangkat Inspektur Jenderal Polisi atau Irjen Pol setelah sebelumnya berpangkat Brigadir Jenderal Polisi. Kenaikan pangkat tersebut menempatkan Dekananto sebagai perwira tinggi Polri dengan tanda dua bintang di pundaknya. Prosesi kenaikan pangkat berlangsung di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Rabu pagi. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama rangkaian agenda serah terima jabatan dan pembinaan karier sejumlah perwira tinggi Polri. Kenaikan pangkat Dekananto sekaligus menjadi bagian dari penyesuaian struktur kepemimpinan di lingkungan Polda Metro Jaya.

Selain Dekananto, sejumlah pejabat utama di lingkungan Polda Metro Jaya juga mendapatkan kenaikan pangkat. Salah satunya adalah Sri Satyatma yang menjabat Inspektur Pengawasan Daerah Polda Metro Jaya dan kini menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi. Perubahan tersebut menjadi bagian dari pembinaan organisasi yang dilakukan Polri terhadap para perwira yang menduduki jabatan strategis. Kenaikan pangkat diberikan seiring tanggung jawab dan posisi yang diemban masing-masing pejabat dalam struktur kepolisian. Penyesuaian ini juga menunjukkan adanya perubahan pada komposisi kepangkatan sejumlah jabatan penting di Polda Metro Jaya.

Dekananto telah menjabat sebagai Wakapolda Metro Jaya sejak 5 Agustus 2025. Penugasannya ketika itu berdasarkan surat telegram Polri nomor ST/1764/VIII/KEP/2025 yang mengatur mutasi dan rotasi sejumlah pejabat. Ia menggantikan Djati Wiyoto Abadhy yang kemudian mendapatkan penugasan sebagai Kapolda Kalimantan Utara. Sebelum menjadi Wakapolda, Dekananto memiliki perjalanan panjang dalam bidang intelijen dan keamanan yang menjadi salah satu bagian utama dalam rekam jejak kariernya. Pengalaman tersebut membuatnya beberapa kali menempati posisi strategis yang berkaitan langsung dengan pemeliharaan stabilitas keamanan dan pengelolaan informasi kepolisian.

Sebelum bertugas di Jakarta, Dekananto pernah menjadi Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Jawa Timur. Selama sekitar dua tahun menjalankan tugas tersebut, ia terlibat dalam berbagai program yang berkaitan dengan pencegahan konflik sosial dan pemeliharaan keamanan wilayah. Salah satu langkah yang pernah menjadi perhatian adalah penertiban ratusan tugu perguruan silat di sejumlah daerah Jawa Timur yang dinilai memiliki potensi menjadi pemicu gesekan antarkelompok. Sebanyak 686 tugu silat dibongkar atau dialihfungsikan menjadi Tugu Pancasila dalam program tersebut. Kebijakan itu dijalankan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai unsur masyarakat untuk menekan potensi bentrokan antarperguruan pencak silat.

Pengalaman Dekananto di bidang intelijen kemudian berlanjut ketika dirinya dipercaya menjadi Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Metro Jaya pada 2024. Penugasan di wilayah Jakarta memberikan tantangan berbeda karena kawasan hukum Polda Metro Jaya memiliki dinamika keamanan yang tinggi dan melibatkan aktivitas masyarakat dalam skala besar. Pengamanan kegiatan politik, demonstrasi, pertandingan olahraga, kegiatan masyarakat, hingga berbagai agenda nasional membutuhkan koordinasi dan kemampuan pemetaan situasi secara berkelanjutan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal ketika Dekananto kemudian mendapatkan kepercayaan menduduki posisi Wakapolda Metro Jaya. Sebagai wakil kepala kepolisian daerah, tanggung jawabnya menjadi lebih luas karena berkaitan dengan koordinasi berbagai satuan kerja di lingkungan Polda Metro Jaya.

Dalam menjalankan tugas sebagai Wakapolda, Dekananto juga terlibat dalam berbagai program untuk memperkuat hubungan antara kepolisian dan masyarakat. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah memperkuat kehadiran polisi secara langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan yang melibatkan unsur kepolisian, TNI, pemerintah daerah, dan warga. Pendekatan tersebut diarahkan agar penanganan persoalan keamanan tidak hanya dilakukan setelah suatu peristiwa terjadi, tetapi juga melalui pencegahan dan komunikasi dengan masyarakat. Wilayah hukum Polda Metro Jaya memiliki karakter yang kompleks karena mencakup kawasan dengan mobilitas penduduk sangat tinggi. Kondisi tersebut membuat koordinasi dan kecepatan respons menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan serta ketertiban.

Kenaikan pangkat menjadi Irjen juga membawa tanggung jawab yang semakin besar bagi Dekananto. Pangkat bintang dua dalam struktur Polri merupakan tingkat perwira tinggi yang biasanya melekat pada sejumlah jabatan strategis dengan cakupan kewenangan luas. Dalam kapasitas sebagai Wakapolda Metro Jaya, Dekananto memiliki peran mendampingi Kapolda dalam mengendalikan organisasi serta memastikan berbagai program kepolisian dapat berjalan secara efektif. Tugas tersebut mencakup pengawasan terhadap pelaksanaan operasional, pembinaan personel, pelayanan masyarakat, hingga koordinasi penanganan gangguan keamanan. Dengan dinamika Jakarta dan wilayah sekitarnya yang sangat tinggi, posisi tersebut membutuhkan kemampuan koordinasi yang kuat antara berbagai satuan dan institusi terkait.

Perubahan kepangkatan di jajaran Polda Metro Jaya juga berlangsung setelah struktur pimpinan kepolisian daerah tersebut mengalami penyesuaian. Posisi Kapolda Metro Jaya saat ini berada pada tingkat Komisaris Jenderal Polisi atau jenderal bintang tiga. Dengan perubahan tersebut, jabatan Wakapolda Metro Jaya juga kini ditempati perwira tinggi berpangkat Inspektur Jenderal Polisi. Penyesuaian kepangkatan tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri untuk menyesuaikan struktur kepemimpinan dengan kebutuhan dan beban tugas yang dihadapi. Polda Metro Jaya memiliki tanggung jawab besar karena menangani keamanan di pusat pemerintahan sekaligus salah satu kawasan metropolitan dengan aktivitas ekonomi dan sosial terbesar di Indonesia.

Dalam prosesi yang berlangsung di Mabes Polri, Kapolri juga memimpin serah terima sejumlah jabatan strategis lainnya. Pergantian tersebut mencakup jabatan di tingkat Mabes Polri maupun satuan kewilayahan sebagai bagian dari pembinaan karier dan penyegaran organisasi. Polri memandang rotasi dan kenaikan pangkat sebagai mekanisme organisasi yang diperlukan untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan tugas. Setiap pejabat yang menerima amanah baru dituntut segera menyesuaikan diri dengan lingkungan tugas serta melanjutkan program yang telah berjalan. Pergantian pejabat juga diharapkan dapat membawa penguatan terhadap pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat.

Bagi Dekananto, kenaikan menjadi Irjen menambah perjalanan panjang kariernya di lingkungan kepolisian. Perwira tinggi asal Bojonegoro, Jawa Timur, tersebut dikenal memiliki pengalaman yang kuat di bidang intelijen dan keamanan sebelum akhirnya mendapatkan tugas pada level pimpinan Polda Metro Jaya. Perjalanan dari penugasan di Jawa Timur hingga Jakarta menunjukkan pengalaman di wilayah dengan karakter keamanan yang berbeda. Kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat juga menjadi bagian penting dalam tugas kepolisian, terutama di daerah dengan tingkat mobilitas dan dinamika sosial tinggi. Pengalaman tersebut kini akan kembali diuji dengan tanggung jawab yang lebih besar setelah dirinya resmi menyandang pangkat bintang dua.

Salah satu tantangan yang dihadapi jajaran pimpinan Polda Metro Jaya adalah menjaga keseimbangan antara tindakan penegakan hukum dan pelayanan kepada masyarakat. Jakarta menjadi pusat berbagai kegiatan nasional sehingga situasi keamanan dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan sosial, ekonomi, maupun politik. Polda Metro Jaya juga harus menangani berbagai jenis tindak kejahatan, mulai dari kejahatan konvensional hingga kejahatan berbasis teknologi yang terus berkembang. Selain itu, kegiatan penyampaian pendapat di ruang publik membutuhkan pola pengamanan yang terukur agar hak masyarakat tetap terlindungi tanpa mengganggu ketertiban umum. Dalam konteks tersebut, peran Wakapolda menjadi penting dalam memastikan seluruh jajaran memiliki koordinasi dan standar pelaksanaan tugas yang sama.

Penguatan kepemimpinan juga dibutuhkan untuk menghadapi tantangan keamanan di wilayah aglomerasi Jakarta dan sekitarnya. Mobilitas masyarakat yang melintasi batas administratif membuat berbagai persoalan keamanan tidak selalu dapat ditangani secara terpisah oleh satu wilayah. Koordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, TNI, serta lembaga terkait diperlukan untuk merespons persoalan yang melibatkan banyak kawasan sekaligus. Perkembangan teknologi juga membuat pola kejahatan berubah sehingga aparat dituntut meningkatkan kemampuan penyelidikan, pengawasan, dan pelayanan berbasis digital. Tanggung jawab tersebut menjadi bagian dari tantangan yang akan terus dihadapi jajaran pimpinan Polda Metro Jaya.

Kenaikan pangkat Dekananto juga menjadi bagian dari proses pembinaan karier di tubuh Polri. Pangkat dan jabatan dalam organisasi kepolisian berkaitan dengan tanggung jawab yang harus dijalankan berdasarkan kebutuhan institusi. Perwira yang mendapatkan promosi diharapkan mampu menunjukkan kinerja sesuai dengan tingkat kewenangan yang diberikan. Pada saat yang sama, evaluasi terhadap pelayanan masyarakat dan penegakan hukum tetap menjadi bagian penting dalam mengukur keberhasilan kepemimpinan. Karena itu, kenaikan pangkat tidak hanya menjadi pencapaian dalam perjalanan karier, tetapi juga membawa tuntutan untuk menjalankan tugas dengan profesionalitas dan integritas yang semakin tinggi.

Dengan resmi menyandang pangkat Inspektur Jenderal Polisi, Dekananto Eko Purwono kini melanjutkan tugasnya sebagai Wakapolda Metro Jaya dengan tanggung jawab yang lebih besar. Kenaikan menjadi jenderal bintang dua menjadi bagian dari penyesuaian organisasi sekaligus perjalanan karier panjangnya di bidang intelijen dan keamanan. Pengalaman bertugas di Jawa Timur hingga Jakarta menjadi modal dalam menjalankan peran sebagai salah satu pimpinan utama kepolisian di wilayah metropolitan terbesar Indonesia. Ke depan, perhatian akan tertuju pada kemampuan jajaran Polda Metro Jaya menjaga stabilitas keamanan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan dinamika keamanan yang terus berkembang, kepemimpinan dan koordinasi di tingkat Polda akan menjadi faktor penting dalam memastikan berbagai tugas kepolisian dapat dilaksanakan secara profesional, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.